Jum'at, 18 November 2016 | 16:43 WIB Anggota Serikat Perusahaan Pers (SPS) Riau membubuhkan As...
Jum'at, 18 November 2016 | 16:43 WIB

Anggota Serikat Perusahaan Pers (SPS) Riau membubuhkan Asterik tangan di spanduk 'Save Dahlan Iskan' di Kantor SPS Riau, Pekanbaru, Riau, 1 November 2016. Aksi tersebut merupakan bentuk dukungan moril dan suport terhadap Dahlan Iskan yang ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus penjualan aset perusahaan pemerintah daerah. ANTARA/Rony Muharrman
Media-indo.info, Surabaya - Mantan Menteri Badan Usaha Negara Dahlan Iskan menyatakan tak mengenal HR, pengacara yang diduga menyuap Ajun Komisaris Besar BR, penyidik Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia yang menangani kasus cetak sawah fiktif 2012-2014. "Untuk kasus terbaru, biar tiga pengacara saya yang omong. Yang jelas tak ada yang namanya HR," katanya sesaat sebelum masuk ruang penyidik Subdirektorat III Direktorat Tindak Pidana Korupsi Kepolisian Daerah Jawa Timur, Jumat, 18 November 2016.
Dahlan datang ke Kepolisian Daerah Jawa Timur sekitar pukul 14.40 untuk menjalani Inspeksi lanjutan oleh penyidik Bareskrim Polri sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi proyek cetak sawah fiktif di Kalimantan Barat tahun 2012-2014. Inspeksi Dahlan hari ini merupakan Inspeksi yang kelima kalinya. Terakhir Dahlan diperiksa kemarin. Namun di karenakan kondisi kesehatannya menurun, Inspeksi kemarin ditunda.
Sebelumnya, tim Sapu Higienis Pungutan Liar (Saber Pungli) bekerja sama dengan Pengamanan Internal (Paminal) Polri menangkap BR yang diduga menerima suap dari perkara cetak sawah yang dia tangani. "Masih didalami, apakah karena dari perbuatan tersebut untuk memperpendek kasusnya atau untuk menghilangkan kasusnya," Perkataan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Komisaris Besar Rikwanto di Jakarta.
Rikwanto menuturkan kronologi kasus tersebut bermula di Rabu lalu, 16 November 2016. Saat itu, pihaknya mendapat informasi adanya seorang anggota Polri yang menerima suap dari perkara yang sedang ditangani. Informasi itu setelah itu didalami oleh tim Saber Pungli bekerja sama dengan Paminal Polri.
Tim Saber, Perkataan Rikwanto, mengerahkan intelijen untuk mengetahui identitas anggota Polri tersebut. Dari situ diketahui oknum anggota Polri tersebut berinisial D. Dia setelah itu ditangkap dan diperiksa tim Saber. "D mengakui telah menerima sejumlah uang yang merupakan suap dari saudara HR," Perkataan Rikwanto.
Setelah didalami lagi, ternyata D tak sendiri, tapi bersama oknum anggota Polri berinisial BR. Dari Inspeksi keduanya, didapati D dan BR telah menerima uang suap sejumlah Rp 1,9 miliar dari perkara yang ditangani, yaitu kasus cetak sawah di Kalimatan di 2012-2014. Kasus cetak sawah ini memang masih berlangsung dan masih ditangani.
Rikwanto mengatakan uang Rp 1,9 miliar itu merupakan bagian dari rencana suap Rp 3 miliar. Uang tersebut kini telah disita sebagai barang bukti. Dari Inspeksi, Perkataan Rikwanto, HR yang mengaku berprofesi sebagai pengacara Dahlan Iskan ini mengatakan membagikan uang untuk memudahkan Inspeksi kliennya yang sering pergi ke luar negeri. "Sehingga penyidik diminta jangan terlalu Genjah memanggil atau memeriksanya, jadi agak diperlambat aja," Perkataan Rikwanto. Dia menambahkan, uang suap diberikan dalam dua tahap, yaitu di Oktober dan awal November. "Uang sejumlah Rp 1,9 miliar sudah kami sita."
NUR HADI
COMMENTS